Pelajaran UI UX design dari Menjadi kasir Jepang

pengalaman di Jepang

Saya pernah bekerja di Jepang selama hampir 3 tahun. Di sana sebagai pegawai tetap sebuah perusahaan retail, saya dan beberapa teman “seangkatan” diwajibkan untuk menjalani pekerjaan di lapangan terlebih dahulu sebelum nantinya menjadi pegawai kantoran. Alhasil, apa yang saya lakukan di awal karir saya adalah melakukan pekerjaan toko seperti kasir, visual merchandising, manajemen gudang, scheduling staff, berjualan langsung, dan lain sebagainya. Lalu apa hubungannya dengan UI UX? Mari lanjutkan dulu.

Setelah berpikir lagi, ada beberapa hal unik yang saya pelajari dari menjadi kasir di Jepang, yang berhubungan dengan UI/UX design yang saya kerjakan beberapa tahun terakhir ini.

1. Pentingnya kesan pertama (Seperti Impresi Awal pada Konsep UI UX)

Sebelum terjun langsung ke lapangan untuk menjadi seorang kasir yang baik, saya menerima training dari perusahaan selama 1 bulan. 1 minggu diantaranya saya harus menyempurnakan bowing/menunduk. Kenapa? karena bagi orang Jepang, menunduk kepada orang yang kita temui itu penting, sama pentingnya dengan bernafas. Dan untuk urusan bisnis, menunduk yang baik harus sesuai dengan derajat tertentu. Makin tinggi jabatan orang yang kita temui, kita harus semakin menunduk.

Begitu pula di produk, desain splash screen dan welcome screen harus menjadi kesan pertama yang apik. Baik dari segi desain interfacenya maupun experiencenya.

2. Riset pasar langsung Penting dalam UI UX Design

Ketika menjadi kasir, saya selalu sambil mengamati customer, baik gender, barang bawaan, kemungkinan lifestylenya, barang yang dibeli, dan sebagainya.

Begitu pula ketika kita akan menyusun strategi sales bulan selanjutnya. Sudah bisa dilihat dari penjualan apa yang meningkat di hari ini. Kira-kira suhu diluar seperti apa, produk apa yang lagi ngetren dihubungkan dengan seperti apa customer yang datang ke toko kita, dan sebagainya.

Begitu pula di produk, kita harus secara cermat meriset pengguna. Apa sih yang pengguna butuhkan? Seberapa penting fitur yang kita sudah buat bagi pengguna? Hal-hal esensial seperti itu yang kadang kita lupakan dan terlena membuat hal yang seindah mungkin.

3. Berhati-hati dalam bertransaksi

Transaksi kasir di Jepang itu gampang, karena mesin kasirnya otomatis. Jadi tugas saya hanya memastikan uang yang keluar dari mesin nilainya sama dengan kembalian. Berbeda dengan di Indonesia, harus penuh konsentrasi supaya kembaliannya pas. Kecuali di minimarket terdekat anda yang uang 100 nya diminta buat sumbangan.

Namun tekanannya juga berbeda, ketika di Jepang semua customer expect kita untuk melakukan transaksi secepat-cepatnya. Karena semua orang buru-buru. Dan kita harus melayani dengan se-akurat mungkin.

Di Indonesia jangan harapkan kecepatan ya teman-teman. Begitu pula transaksi digital. Beberapa platform yang sudah menyediakan pembayaran dengan uang digital mungkin cukup dengan scan QR atau memasukkan nomor. Namun, untuk platform lainnya yang masih menggunakan transfer dan pengecekan manual siap-siap pekerjaan bertambah.

Selain itu, jangan sampai check out kita membingungkan untuk user. Mereka harus membayar apa yang mereka beli saja, jangan sampai ada angka-angka siluman.

4. Jangan lupa berterimakasih

Sangat penting bagi kehidupan kita untuk mengucapkan maaf, terimakasih, dan tolong. Begitu pula dengan apa yang menjadi salah satu SOP terpenting. Ketika saya menjadi kasir yaitu selalu mengucapkan terimakasih di akhir transaksi. Orang jepang menganggap hal ini sangat penting dan kita juga seharusnya seperti itu.

Dalam UX writing, baiknya 3 kata penting itu ada. Misalnya terimakasih ketika selesai transaksi atau user melakukan sesuatu yang menguntungkan kita (sign up, reviewing, dll). Maaf ketika produk kita mengalami gangguan atau ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan tolong ketika kita mengharapkan user melakukan sesuatu (please subscribe, please review us, etc)

5. Interface yang paling penting: Senyum

smiling-child
Smiling Child – Unsplash

Dalam keberjalanan saya menjadi seorang kasir, saya sadar bahwa senyum selama proses transaksi berjalan itu sangat penting. dari awal barang belanjaan datang hingga dibungkus plastik dan customer pergi, jangan sekali-kali tidak tersenyum.

Hal ini terasa simpel, namun susah bagi kita untuk konsisten tersenyum apalagi untuk pekerjaan berjam-jam setiap hari. Namun di dalam sebuah produk, senyum itu bisa diartikan sebagai kerapihan. jika interface sebuah produk tidak rapi, user akan malas menggunakan atau komunikasi yang berjalan tidak lancar. maka dari itu kerapihan padding, margin, font size, dll itu sangat penting dan diharapkan selalu konsisten.

6. Percepat pekerjaan ketika kesibukan meningkat

Saya pernah terjebak ketika toko saya sedang mengadakan sale diskon besar-besaran yang membuat antrian kasir sangat panjang. Saya yang baru bekerja 3 bulan diharuskan melayani antrian dengan menjadi kasir 3 jam non-stop untuk antrian kurang lebih 100 meter. Dsitu saya mempercepat pekerjaan seperti scanning produk, bungkus pecah belah, melipat baju, dsb supaya antrian cepat berakhir.

Teman-teman pasti sering melihat ini di departemen store ketika mau lebaran kan. Begitu pula untuk produk ini adalah infrastruktur yang sangat penting agar menjaga experience user tetap baik. Ada kalanya gojek mengalami gangguan ketika user dari 1000 menanjak hingga jutaan setiap harinya. Maka dari itu kita harus prepare, tidak hanya untuk hal terburuk tapi juga hal terbaik, karena semakin tinggi traffic produk kita semakin baik bukan?

Nah, itu tadi adalah beberapa pelajaran tentang UI UX Design yang saya ambil dari menjadi kasir di Jepang. Memang pekerjaan sederhana, tapi kasir selalu menjadi tempat interaksi antara pembeli dan penjual (yang punya produk). Sehingga ada banyak hal yang sama dan bisa diterapkan pada konsep UI UX Design.

Begitu saja dulu, semoga bermanfaat. Ada banyak pembahasan lain tentang pemrograman, teknologi, dan perbaikan diri di Azura Labs Newsletter. Jangan sungkan untuk berkomentar dan memberi masukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *